acebook

.¤ª"˜¨¯¨¨Salamah Bin Al-Akwa oo Salamah Ibn Al-Akwa¸,ø¨¨"ª¤. 
Pahlawan pasukan jalan kaki. 


Puteranya Iyas ingin menyimpulkan keutamaan bapaknya dalam suatu kalimat singkat, katanya: “Bapakku tak pernah berdusta … !” Memang, untuk men­dapatkan kedudukan tinggi di antara orang-orang shaleh dan budiman, cukuplah bagi seseorang dengan memiliki sifat-sifat ini! Dan Salamah bin al-Akwa’ telah memilikinya, suatu hal yang memang wajar baginya … !

Salamah salah seorang pemanah bangsa Arab yang terke­muka, juga terbilang tokoh yang berani, dermawan dan gemar berbuat kebajikan. Dan ketika ia menyerahkan dirinya menganut Agama Islam, diserahkannya secara benar dan sepenuh hati, hingga ditempalah oleh Agama itu sesuai dengan coraknya yang agung.

Salamah bin al-Akwa’ termasuk pula tokoh-tokoh Bai’atur Ridwan. Ketika pada tahun 6 H. Rasulullah saw. bersama para sha­habat berangkat dari Madinah dengan maksud hendak berziarah ke Ka’bah, tetapi dihalangi oleh orang-orang Quraisy, maka Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa tujuan kunjungannya hanyalah untuk berziarah dan sekali-kali bukan untuk berperang ….

Sementara menunggu kembalinya Utsman, tersiar berita bahwa ia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah lalu duduk di bawah naungan sebatang pohon menerima bai’at sehidup semati dari shahabatnya seorang demi seorang. 

Berceritalah Salamah:“Aku mengangkat bai’at kepada Rasulullah di bawah pohon, dengan pernyataan menyerahkan jiwa ragaku untuk Islam, lalu aku mundur dari tempat itu. Tatkala mereka tidak berapa banyak lagi, 

Rasulullah bertanya: 
“Hai Salamah, kenapa kamu tidak ikut bai’at … !”
“Aku telah bai’at, wahai Rasulullah!” ujarku.
“Ulanglah kembali!” titah Nabi.
 Maka kuucapkanlah bai’at itu kembali”.

Dan Salaman telah memenuhi isi bai’at itu sebaik-baiknya. Bahkan sebelum diikrarkannya, yakni semenjak ia mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah, wa-asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maksud bai’at itu telah dilaksanakan!

Kata Salamah: “Aku berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali,  dan bersama Zaid bin Haritsah sebanyak Sembilan kali”.Salamah terkenal sebagai tokoh paling mahir dalam pepe­rangan jalan kaki, dan dalam memanah serta melemparkan tombak dan lembing. Siasat yang dijalankannya serupa dengan perang gerilya, yang kita jumpai sekarang ini. Jika musuh datang menyerang, ia menarik pasukannya mundur ke belakang. Tetapi bila mereka kembali atau berhenti untuk beristirahat, maka diserangnya mereka tanpa ampun … !

Dengan siasat seperti ini ia mampu seorang diri menghalau tentara yang menyerang luar kota Madinah di bawah pimpinan Uyainah bin Hishan al-Fizari dalam suatu peperangan yang disebut perang Dzi Qarad. Ia pergi membuntuti mereka seorang diri, lalu memerangi dan menghalau mereka dari Madinah, hingga akhirnya datanglah Nabi membawa bala bantuan yang terdiri dari shahabat-shahabatnya.Pada hari itulah Rasulullah menyatakan kepada para sha­habatnya: — “Tokoh pasukan jalan kaki kita yang terbaik ialah Salamah bin al-Akwa’ … !”

Tidak pernah Salamah berhati kesal dan merasa kecewa kecuali ketika tewas saudaranya yang bernama ‘Amir bin al­Akwa’ di perang Khaibar… .Ketika itu ‘Amir mengucapkan pantun dengan suara keras di hadapan tentara Islam, katanya:“Kalau tidak karena-Mu tidaklah kami ‘kan dapat hidayah Tidak akan shalat dan tidak pula akan berzakatMaka turunkanlah ketetapan ke dalam hati kami Dan dalam berperang nanti, teguhkanlah kaki-kaki kami”.Dalam peperangan itu ‘Amir memukulkan pedangnya kepada salah seorang musyrik. 

Tetapi rupanya pedang yang digenggam­nya hulunya itu melantur dan terbalik hingga menghujam pada ubun-ubunnya yang menyebabkan kematiannya. Beberapa orang Islam berkata:  “Kasihan ‘Amir . .. ! Ia terhalang mendapatkan mati syahid!”Maka pada waktu itu, yah, hanya sekali itulah, tidak lebih Salamah merasa amat kecewa sekali. Ia menyangka sebagai sangkaan shahabat-shahabatnya bahwa saudaranya ‘Amir itu tidak mendapatkan pahala berjihad dan sebutan mati syahid, disebabkan ia telah bunuh diri tanpa sengaja.Tetapi Rasul yang pengasih itu, segera mendudukkan perkara pada tempat yang sebenarnya, yakni ketika Salamah datang kepadanya bertanya: “Wahai Rasulullah, betulkah pahala ‘Amir itu gugur …?’

Maka jawab Rasulullah saw.:
“Ia gugur bagai pejuang Bahkan mendapat dua macam pahala Dan sekarang ia sedang berenang Di sungai-sungai surga … !”

Kedermawanan Salamah telah cukup terkenal, tetapi ada hal yang luar biasa. Hingga ia akan mengabulkan permintaan orang termasuk jiwanya apabila permintaan itu atas nama Allah … !Hal ini rupanya diketahui oleh orang-orang itu. Maka jika seseorang ingin tuntutannya berhasil, ia akan mengatakan ke padanya: “Kuminta pada anda atas nama Allah … !” Menge­nai ini Salamah pernah berkata: “Jika bukan atas nama Allah, atas nama siapa lagi kita akan memberi … ?”

Sewaktu Utsman r.a. dibunuh orang, pejuang yang perkasa ini merasa bahwa api fitnah telah menyulut Kaum Muslimin, ia seorang yang telah menghabiskan usianya selama ini berjuang bahu-membahu dengan saudara seagamanya, tak sudi berperang menghadapi saudara seagamanyaBenar . . . ! 

Seorang tokoh yang telah mendapat pujian dari Rasulullah tentang keahliannya dalam memerangi orang­-orang musyrik, tidaklah pada tempatnya ia menggunakan ke­ahliannya itu dalam memerangi atau membunuh orang-orang Mu’min. Itulah sebabnya ia mengemasi barang-barangnya lalu meninggalkan Madinah berangkat menuju Rabdzah . . . , yaitu kampung yang dipilih oleh Abu Dzar dulu sebagai tempat hijrah dan pemukiman barunya.

Maka di Rabdzah inilah Salamah melanjutkan sisa hidupnya, pada suatu hari di tahun 74 H., hatinya merasa rindu berkunjung ke Madinah. Maka berangkatlah ia untuk memenuhi kerinduan­nya itu. la tinggal di Madinah satu dua hari dan pada hari ketiga ia pun wafat …. 

Demikianlah, rupanya tanahnya yang tercinta dan lembut empuk itu memanggil puteranya ini untuk merangkul­nya ke dalam pelukannya dan memberikan ruangan baginya di lingkungan shahabat-shahabatnya yang memperoleh berkah bersama para syuhada yang shaleh ….

(52)  
SALAMAH IBN AL-AKWA'  
The Infantry Hero 
        His son Iyaas summarized all his virtues in just one sentence: "My father never lied." To be described by this singular virtue makes a person eligible for a highly elevated position among the pious and virtuous. Salamah Ibn Al-Akwa' achieved such a position, one which he deserved. Salamah was one of the rare Arab spearmen, but he was also famous for his courage, generosity, and charitable deeds. He sincerely submitted himself to Islam; then it was Islam that molded his personality according to its system.  

        Salamah was one of those who attended the Pledge of Radwaan.  
    
    In A.H. 6, the Prophet (PBUH) and his Companions aimed at visiting the Sacred House in Makkah, but the Quraish hindered them from doing so.  

        The Prophet (PBUH) sent `Uthmaan Ibn `Afaan to tell them that he came as a visitor, not as a fighter. While they awaited `Uthmaan's return, a rumor spread that the Quraish had killed him. The Prophet (PBUH) sat under a shady tree to take the Companion's oath of allegiance, one by one. They gave him their word to he ready to die.  

        Salamah reported: I swore the oath of allegiance in front of the Prophet to be ready to die.
 Then I stepped aside. When the crowd of people nearly ended, the Prophet (PBUH) said, 
"O Salamah, aren't you going to swear your oath of allegiance?" 
I said, "I've already done that."
 He said,
 " Again." 
I swore the oath again.  

       Salamah had redeemed his oath long before that day. He redeemed it since the day he admitted that there is no god but Allah and Muhammad is His Messenger. He said, "I joined the Prophet (PBUH) in seven battles and joined Zaid Ibn Haarithah in nine battles."  

        He was one of the most skillful warriors as an infantryman and one of the best to shoot arrows and throw spears. His tactics were similar to present day guerilla warfare :if an enemy approached, he retreated waiting for him to move backwards or to take a rest, in order to attack him by suprise. In this way he was able to chase alone the force led by `Uyainah Ibn Hisn Al-Fizaarii which raided the environs of Al-Madiinah in the Dhii Qarad raid. Totally alone, he followed their traces, then continued fighting and pushing them away from Al-Madiinah until the Prophet (PBUH) reached him with a great number of Companions. On that day the Prophet (PBUH) said to the Companions, "Our best infantryman is Salamah lbn Al Akwa".  

        Salamah never knew deep sorrow and anxiety except when his brother `Aamir Ibn Al-Akwa' died during the Battle of Al- Khaibar.  

        Aamir was the one singing in front of the Muslim army:  
   Had it not been for You. 
We would not have been guided, 
Nor prayed nor given charity. 
Bless us with tranquility, 
And let us be strong and firm-hearted when meeting our enemies. 

        In that battle Aamir wanted to strike a polytheist with his sword. However, his sword bent and its edge injured him fatally. Some Muslims said, "Poor `Aamir, he has been deprived of martyrdom." 

        Salamah's anxiety was severe because he thought, like others, that his brother, who had killed himself accidently, was deprived of the recompense of jihaad and the reward of martyrdom. But soon the Prophet (PBUH) put things in their right order when Salamah went to him saying."O Messenger of Allah, is it true that by dying in this way `Aamir has been deprived of the reward of all his previous deeds?" 

The Messenger (PBUH) answered,
 "He has been killed as a mujaahid. He is to be granted two rewards. He is right now swimming in the rivers of Paradise.  
  
        Salamah was very generous. However, he was more so when asked to give something for the sake of Allah. If someone had asked him to give away his life for the sake of Allah, he would not have hesitated to do so. People knew this attitude of his, so when anyone needed something, he just asked him for the sake of Allah.He always said, "If someone would not give for the sake of Allah, for whose sake then would he give?" 
      
  On the day of `Uthmaan's murder (May Allah be pleased with him) the great mujaahid realized that the gates of sedition had been opened. How could it be possible for him who had fought among his brethren all his life to turn into a warrior against his brethren? It was not his right to use his fighting skill, which had been praised by the Prophet (PBUH), against believers and Muslims.  
       
 It was therefore more proper that he carry his belongings and leave Al-Madiinah for a place called Ar-Rabzah, the same place to which Abu Dhar chose to emigrate and settle.  

        Salamah spent the rest of his life at Ar-Rabzah. In A.H. 74 his burning desire took him to Al- Madinah, where he spent one or two days as a visitor, and on the third day he died. It was as if the dear, moist earth of Al-Madiinah appealed to him to offer his body a cool, safe shelter, as it had previously offered all the blessed Companions and pious and virtuous martyrs.


.¤ª"˜¨¯¨¨Salamah Bin Al-Akwa oo Salamah Ibn Al-Akwa¸,ø¨¨"ª¤.




Categories: