acebook



.¤ª"˜¨¯¨¨Abdullah Ibnu Rawahah  o'Abd Allah Ibn Rawaahah¸,ø¨¨"ª¤. 

 Yang bersemboyan : Wahai diri ....
Jika kau tidak gugur di medan juang.... Kau tetap akan mati ... Walau di atas ranjang. 

Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari duabelas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai’at Rasul (diambil janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan Hama Bai’ah al-Aqabah al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyiar Islam pertama ke kota Madinah, dan bai’at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam …. Maka salah seorang dari utusan yang dibai’at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah.

Dan sewaktu pada tahun berikutnya, Rasulullah saw. mem­bai’at lagi tujuhpuluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai’at ‘Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai’at itu. Kemudian sesudah Rasulullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam mem­bela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesem­patan yang ads. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagallah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat dipatahkan.

Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka dengan kepandaian tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, yang untaian syair-syairnya me­luncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar …. Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam . . . . Dan Rasulullah menyukai dan meni’mati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.

Pada suatu hari, beliau duduk bersama para shahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya: “Apa yang anda lakukan bila anda hendak meng­ucapkan syair?”

Jawab Abdullah: “Kurenungkan dulu, kemudian baru ku­ucapkan”. Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa menunggu  lama, demikian kira-kira artinya secara bebas:

“Wahai putera Hasyim yang baik, 
sungguh Allah telah me­lebihkanmu dari seluruh manusia
Dan memberimu keutamaan, dimana orang tak usah iri 
Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini ter­hadap dirimu
Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka
Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka 
Dalam memecahkan persoalan, tiadalah mereka hendak menjawab atau membela 
Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda bawa
Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa”.

Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya: “Dan engkau pun akan diteguhkan Allah”. Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada ‘umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka, beliau sambil membaca syair dari rajaznya: “Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk, tidak akan bersedeqah dan shalat! Maka mohon diturunkan sakinah atas kami dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang. Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami, bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang”. Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.

Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim : 

“Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat “.
(Q.S. 26 asy-Syu’ara: 224)

Tetapi kedukaannya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya:

“Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya “.
(Q.S. 26 asy-Syu’ara; 227 )

Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan:

“Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!”
Ia juga menyorakkan teriakan perang:

`Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir, dari jalannya.
Menyingkir kamu, setiap kebaikan akan ditemui pada Rasul­Nya”.

Dan datanglah waktunya perang Muktah …. Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam, sebagaimana telah kita ceriterakan dalam riwayat Zaid dan Ja’far. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukan Islam yang akan berangkat meninggalkan kota Madinah …. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya; “Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman Keampunan dan kemenangan di medan perang Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan …. Mati syahid di medan perang . .!!”

Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang pukulan perang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia .. !! Balatentara Islam maju bergerak ke medan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya bala­tentara Romawi sekitar duaratus ribu orang …. karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya … !

Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam . . . . dan sebagian ada yang menyeletuk berkata: “Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi”. Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya Siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap: “Kawan-kawan sekalian! Demi Allah, sesungguhnya kita ber­perang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah . . . ! Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, Yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah . . . ! Ayohlah kita maju . . . ! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah … !” Dengan bersorak sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangan­nya, tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka ber­teriak: “Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah. . !”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan Yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk meng­hadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya. Kedua pasukan balatentara itu pun bertemu, lalu ber­kecamuklah pertempuran di antara keduanya, sebagaimana telah kita sebutkan dahulu …. Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja’far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kebesaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanan Ja’far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara. pasukan-pasukan Romawi Yang datang membanjir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini.

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, Ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan, yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi, seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkit­kan seluruh semangat dan kekuatannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru: “Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga Tapi kenapa kulihat, engkau menolak surga …. Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …. Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah kesatria sejati …. ! “

(Maksudnya, kedua shahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

“Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah kesatria sejati”" la pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya . . . . Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke surga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka Tetapi lonceng keberangkatan sudah berdenting, yang memberitahukan awal perjalanan­nya pulang ke hadlirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid ….

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya: “Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!” “Benar engkau, ya Ibnu Rawahah … ! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah . . . !

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah saw. sedang duduk beserta para shahabat di Madinah, sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan … ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: “Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid . . . . Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula ……. Beliau berdiam sebentar, lalu diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdullah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketenteraman dan ke­rinduan, lalu katanya pula: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke surga . . . “. Perjalanan mana lagi yang lebih mulia …. Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …. Mereka maju ke medan laga bersama-sama …. Dan mereka naik ke surga bersama-sama pula …. Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenang­kan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasulullah saw. yang berbunyi: “Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke surga ….




`ABD ALLAH IBN RAWAAHAH  
O My Soul, Death Is Inevitable, So It Is Better  
for You to Be Martyred 


        When the Prophet (PBUH) met secretly with Al-Madiinah's delegation on the outskirts of Makkah away from the disbelievers of the Quraish, twelve representatives of the Ansaar took an oath of allegiance in the first Pledge of `Aqabali. `Abd Allah Ibn Rawaahah was one of those representatives who ushered Islam to Al-Madiinah and who paved the way for the Hijrah, which was considered an excellent springboard for Allah's religion, Islam. `Abd Allah was also one of the great 73 of the Ansaar who gave the Prophet (PBUH) the Second Pledge of `Aqabah in the following year. After the Prophet (PBUH) and his Companions emigrated and settled in Al-Madiinah, `Abd Allah Ibn Rawaahah was the most active Muslim of the Ansaar who strived to support the thriving religion. He was also the most alert Muslim to the plots of `Abd Allah Ibn Ubaiy whom the people of Al-Madiinah were about to crown king before the Muslims arrived. He never got over the bitterness he felt for losing the chance of his lifetime to become a king. Therefore, he used his craftiness to weave deceitful plots against Islam, while `Abd Allah Ibn Rawaahah kept on tracing and detecting this craftiness with remarkable insight that frustrated most of Ibn Ubaiy's maneuvers and plots.  

        Ibn Rawaahah (May Allah be pleased with him) was a scribe at a time in which writing was not prevalent. He was a poet. His poetry flowed with admirable fluency and strength. Ever since his Islam he devoted his poetic genius to its service. The Prophet (PBUH) always admired his poetry, asking him to recite more of it. One day, as he was sitting among his Companions, `Abd Allah Ibn Rawaahah joined them, so the Prophet (PBUH) asked him, "How do you compose a poem?" `Abd Allah answered, "First I think about its subject matter, then I recite." He immediately recited:  
   
O the good descendants of Al Haashim 
Allah raised you to a high station 
Of which you are worthy above all mankind. 
My intuition made me realize at once 
Your excelling nature, 
Contrary to the disbelievers belief in you. 
If you asked some of them for support and help, 
They would turn you down. 
May Allah establish the good that descends 
On you firmly 
And bestow victory upon you as He did to Muusaa. 
The Prophet (PBUH) was elated and said,
 "I hope that Allah will make your feet firm, too." 

When the Prophet was circumambulating the Ka'bah in the compensatory `Umrah, lbn Rawaahah recited to him: 
   
Were it not for Allah, we would not have been  
Guided to the Right path nor charitable  
Nor able to perform our prayers.  
So descend, peace of mind and reassurance,  
On us and establish our feet firmly  
When we meet our enemy  
In combat. If our oppressors tried to spread  
Affliction and trial, unrest, among us  
We will not give them way. 

        Muslims reiterated his graceful lines. The active poet was saddened when the glorious verse descended saying:

 "And for the poets, only the erring people follow them " (26:224). 

But soon he was contented to hear another verse saying:

 "Except those who believe and do deeds of righteousness, and 
remember GOD frequently, and defend themselves after being oppressed" (26 : 227).  
  
        When Islam rose up in arms in self-defense, Ibn Rawaahah saw service in all the battles: Badr, Uhud, Al-Khandaq, Al Hudaibiyyah, and Khaibar. His perpetual slogan was these lines of poetry:

 ''O my soul, death is inevitable, so it is better for you to be martyred."  

        He shouted at the disbelievers in every battle, "O disbelievers, get out of my way. My Prophet (PBUH) has all the excellent qualities.  

        The Battle of Mu'tah started, and, as we have mentioned, he was the third of the Commanders after Zaid and Ja'far. Ibn Rawaahah (May Allah be pleased with him) stood there as the army was about to leave Al- Madiinah and recited:  

I truly ask the Most Beneficient's forgiveness  
and a mortal stroke of a sword  
that will strike me down  
foaming or a mortal stab  
with a spear by a stubborn disbeliever  
that will make my liver and intestine  
show out of my body. So that  
when people pass by my grave,  
they will say: By Allah, you are  
the most righteous warrior. 

        Indeed, a stroke or a stab that would convey him into the world of rewarded martyrs was his utmost wish. The army marched towards Mu'tah. When the Muslims saw their enemies, they estimated them at 200,000, for they saw endless waves of warriors. The Muslims glanced back at their small group and were stunned. Some of them suggested, "Let us send a message to the Prophet (PBUH) to tell him of the enormity of the enemy that surpassed all our expectations so he will either order us to wait for reinforcements or to Pierce through the enemy lines." 

        However, Ibn Rawaahah stood amidst the lines of the army and said: "O my people, by Allah, we do not fight our enemies with numbers, strength or equipment, but rather with this religion which Allah has honored us with. So go right ahead: it is either one of two equally good options, victory or martyrdom." The Muslims, who were lesser in number and greater in faith, cried out, "By Allah, you spoke the truth." The smaller army broke through the mighty host of 200,000 warriors in terrible and cruel fighting. 

        As we have mentioned, both armies met in fierce combat. The first commander, Zaid Ibn Haarithah, was struck down, he winning glorious martyrdom. The second in command was Ja'far Ibn Abi Taalib, who was overjoyed to be martyred. `Abd Allah took over the command and grabbed the standard from Ja'far's failing upper arms. The fight reached the peak of ferocity. The smaller army was indistinct amidst the waves of the mighty hosts of Heraclius.  

        When Ibn Rawaahah was a soldier, he attacked heedlessly and confidently. But now the command placed great responsibilities for the army's safety on his shoulders. It seemed that for a moment he was overtaken by hesitation and dread, yet he instantly shook off those apprehensions, summoned his innate fearlessness and cried out, "O my soul, you look as if you were afraid to cross the way that leads to Paradise. O my soul, I took an oath to fight. O my soul, death is inevitable, so you had better be martyred. Now I will experience the inevitability of death. What you have cared for so long is finally yours. So go ahead, for if you follow these two heroes, you will be guided to the way of Paradise." He meant the two heroes who had preceded him in martyrdom, Zaid and Ja'far.  

       He darted into the Roman armies, fiercely and ruthlessly. Were it not for a previous ordainment from Allah that he was to be martyred on that day, he would have annihilated the fighting hosts. But destiny called and he was martyred. His body was struck down, yet his pure, valiant spirit was raised to the heavens. His most precious wish finally came true, so that "When people pass by my grave, they will say: By Allah you are the most righteous warrior!'  

       The fierce attack in Al-Balqaa' in Syria went on. Back in Al Madiinah the Prophet (PBUH) was talking peacefully and contentedly with his Companions when he suddenly stopped talking. He closed his eyes a little, then opened them. A gleam flashed from them, yet it was tinged with sadness and compassion. He looked around sadly and said, "Zaid took the standard and fought until he was martyred." He was silent for a while, then continued "Ja'far grasped it and fought until he was marytred. Then `Abd Allah lbn Rawaahah grasped it and fought until he was martyred." He was silent for a while, then his eyes sparkled with elation, tranquility, longing, and joy as he said, "They were all raised to Paradise."  

        What a glorious journey it must have been! What a happy succession! They all marched to conquer, they all were raised up to Paradise. The best salute to immortalize their memory rests in the Prophet's words:

 "They were raised up to await me in Paradise."

.¤ª"˜¨¯¨¨Abdullah Ibnu Rawahah  o'Abd Allah Ibn Rawaahah¸,ø¨¨"ª¤.



Categories: