acebook

Para Sahabat - The Companions

.¤ª"˜¨¯¨¨Tsabit Bin Qeis oo Thaabit Ibn Qais¸,ø¨¨"ª¤.
Juru bicara Rasulullah. 



Hassan adalah penyair Rasulullah dan penyair Islam... Dan Tsabit adalah juru bicara Rasulullah dan juru bicara Islam...Kalimat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kuat, padat, keras, tegas dan mempesonakan ….

Pada tahun datangnya utusan-utusan dari berbagai penjuru semenanjung Arabia, datanglah ke Madinah perutusan Bani Tamim yang mengatakan kepada Rasulullah saw.:  ”Kami datang akan berbangga diri kepada anda, maka idzinkanlah kepada penyair dan juru bicara kami menyampaikannya … !” Maka Rasulullah, saw. tersenyum, lalu katanya; “Telah ku­idzinkan bagi juru bicara kalian, silakanlah . . !”Juru bicara mereka Utharid bin Hajib pun berdirilah dan mulai membanggakan kelebihan-kelebihan kaumnya . . . . 

Dan sewaktu pernyatakannya telah selesai, Nabi pun berkata kepada Tsabit bin Qeis: 
“Berdirilah dan jawablah!”

Tsabit bangkit menjawabnya: “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah”.

“Langit dan bumi adalah ciptaan-Nya, dan titah-Nya telah berlaku padanya.Ilmu-Nya meliputi kerajaan-Nya, tidak satu pun yang ada kecuali dengan karunia-NyaKemudian dengan qodrat-Nya juga, dijadikan-Nya kita golongan dan bangsa-bangsa.Dan Ia telah memilih dari makhluk-Nya yang terbaik seorang Rasul-Nya... Berketurunan, berwibawa dan jujur kata tutur­nya..Dibekalinya al-Quran, dibebaninya amanat . . . . Membimbing ke jalan persatuan ummat ….Dialah pilihan Allah dari yang ada di alam semesta . . . .Kemudian ia menyeru manu­sia agar beriman kepadanya, maka berimanlah orang-orang muhajirin dari kaum dan karib kerabatnya . . . yakni orang-orang yang termulia keturunannya, dan yang paling baik amal perbuat­annya. Dan setelah itu, kami orang-orang Anshar, adalah yang pertama pula memperkenankan seruannya. 

Kami adalah pembela­-pembela Agama Allah dan pendukung Rasul­Nya….”.

Tsabit telah menyaksikan perang Uhud bersama Rasulullah saw. dan peperangan-peperangan penting sesudah itu. Corak pengurbanannya menakjubkan, sangat menakjubkan . . . ! Dalam peperangan-peperangan menumpas orang-orang murtad, ia selalu berada di barisan terdepan, membawa bendera Anshar, dan menebaskan pedangnya yang tak pernah menumpul dan tak pernah berhenti ….Di perang Yamamah yang telah beberapa kali kita bicarakan, Tsabit melihat terjadinya serangan mendadak yang dilancarkan oleh tentara Musailamatul Kaddzab terhadap Muslimin di awal pertempuran, maka berserulah ia dengan suaranya yang keras memberi peringatan:  ”Demi Allah, bukan begini caranya kami berperang bersama Rasulullah saw...................................“‘

 Kemudian ia pergi tak seberapa jauh, dan tiada lama kembali sesudah membalut badan­nya dengan balutan jenazah dan memakai kain kafan, lalu berseru lagi:  ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa mereka . . .  yakni tentara Musailamah  . . . dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang diper­buat mereka . . .  yakni Kaum Muslimin yang kendor semangat dalam peperangan  . . . !”

Maka segeralah bergabung kepadanya Salim bekas sahaya Rasulullah saw. sedang ia adalah pembawa bendera muhajirin . . . . Keduanya menggali lobang yang dalam untuk mereka berdua. Kemudian mereka masuk dengan berdiri di dalamnya, lalu mereka timbunkan pasir ke badan mereka sampai menutupi setengah badan . . . . Demikianlah mereka berdiri tak ubah bagai dun tonggak yang kokoh, setengah badan mereka ter­benam ke dalam pasir dan terpaku ke dasar lobang …. semen­tara setengah bagian atas dadanya, kening dan kedua lengan mereka siap menghadapi tentara penyembah berhala dan orang-­orang pembohong …. Tak henti-hentinya mereka memukulkan pedang terhadap setiap tentara Musailamah yang mendekat, sampai akhirnya kedua mereka mati syahid di tempat itu, dan reduplah sudah sinar sang surya mereka … !

Peristiwa syahidnya kedua pahlawan r.a. ini bagaikan pekikan dahsyat yang menghimbau Kaum Muslimin agar segera kembali kepada kedudukan mereka hingga akhirnya mereka berhasil menghancurkan tentara Musailamah, mereka tersungkur me­nutupi tanah bekas mereka berpijak ….Dan Tsabit bin Qeis yang mencapai kedudukan puncak sebagai jubir dan sebagai pahlawan perang, juga memiliki jiwa yang selalu ingin kembali menghadap Allah Maha Pencipta, hatinya khusyu’ dan tenang tenteram. Ia adalah pula salah seorang Muslimin yang paling takut dan pemalu kepada Allah ….

Sewaktu turun ayat mulia:

“Sesungguhnya Allah tidak suha pada setiap orang yang congkak dan sombong”. 
(Q.S. 31 Luqman:18)

Tsabit menutup pintu rumahnya dan duduk menangis …. Lama din terperanjak begitu saja, sehingga sampai beritanya kepada Rasulullah saw. yang segera memanggilnya dan menanyainya.Maka kata Tsabit:  ”Ya Rasulallah, aku senang kepada pakaian yang indah,dan kasut yang bagus, dan sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang yang congkak dan sombong …Bicaranya itu dijawab oleh Nabi saw. sambil tertawa senang:“Engkau tidaklah termasuk dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dengan kebaikan …. dan mati dengan kebaikan ….dan engkau akan masuk surga . . . !”

Dan sewaktu turun firman Allah Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi . . . dan jangan kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya, suara sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lainnya, karena dengan demikian amalan kalian akan gugur, sedang kalian tidak menyadarinya … !” 
(Q.S. 49 al-Hujurat: 2)

Tsabit menutup pintu rumahnya lagi, lalu menangis . . . . Rasul mencarinya dan menanyakan tentang dirinya, kemudian me­ngirimkan seseorang untuk memanggilnya …. Dan Tsabit pun datanglah ….Rasulullah menanyainya mengapa tidak kelihatan muncul, yang dijawabnya:  ”Sesungguhnya aku ini seorang manusia yang keras suara … dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu wahai Rasulullah . .. ! 

Karena itu tentu­lah amalanku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka … !”

 Rasulullah pun menjawabnya:  
”Engkau tidaklah termasuk salah seorang di antara mereka bahkan engkau hidup terpuji . . . dan nanti akan berperang sampai syahid, hingga Allah bakal memasukkanmu ke dalam surga . . .!”Masih tinggal dalam kisah Tsabit ini satu peristiwa lagi, yang kadang-kadang tak dapat diterima dengan puas oleh hati orang-orang yang memusatkan pikiran, perasaan dan mimpi­mimpi mereka kepada alam kebendaan yang sempit semata, yakni alam yang selalu mereka raba, mereka lihat atau mereka cium … !

Namun bagaimanapun, peristiwa itu benar-benar terjadi, dan tafsirnya nyata dan mudah bagi setiap orang yang di samping mempergunakan mata lahir, mau pula menggunakan mata bathinnya….

Setelah Tsabit menemui syahidnya di medan pertempuran, melintaslah di dekatnya salah seorang Muslimin yang baru saja masuk Islam dan ia melihat pada tubuh Tsabit masih ada baju besinya yang berharga maka menurut dugaannya ia berhak mengambilnya untuk dirinya, lalu diambilnya . . . Dan marilah kita serahkan kepada empunya riwayat itu menceritakannya sendiri:“Selagi seorang laki-laki Muslimin sedang nyenyak tidur, ia didatangi Tsabit dalam tidurnya itu, yang berkata padanya: “Aku hendak mewasiatkan kepadamu satu wasiat tapi jangan sampai kau katakan bahwa ini hanya mimpi lalu kamu sia-siakan!Sewaktu aku gugur sebagai syahid, lewat ke dekatku se­seorang Muslim lalu diambilnya baju besiku . . . .

Rumahnya sangat jauh, orang tersebut memiliki kuda kepalanya mendongak ke atas seakan-akan tertarik tali kekangnya ….Baju besi itu disimpan ditutupi sebuah periuk besar, dan periuk itu ditutupi pelana unta (sakeduk) …. Pergilah kepada Khalid minta ia untuk mengirimkan orang mengambilnya! Kemudian apabila kamu sampai ke kota Madinah menghadap khalifah Abu Bakar, katakan kepadanya bahwa aku mempunyai utang sekian banyaknya, aku mohon agar ia bersedia mem­bayarnya ….Maka sewaktu laki-laki itu terbangun dari tidurnya, ia menghadap kepada Khalid bin Walid, lalu diceritakannyalah mimpi itu . . .. Khalid pun mengirimkan untuk mencari dan mengambil baju besi itu, lalu menemukannya sebagai digambar­kan dengan sempurna oleh Tsabit . . – .

Setelah Kaum Muslimin pulang kembali ke Madinah, orang tadi menceritakan mimpinya kepada khalifah, beliau pun me­laksanakan wasiat Tsabit …. Satu-satunya wasiat dari seorang yang telah meninggal ialah wasiatnya Tsabit bin Qeis yang terlaksana dengan sempurna.

“Dan jangan sekali-kali kalian sangka orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, karena sebenarnya mereka masih hidup, dan diberi rizqi di sisi Tuhan mereka. . . !”
(Q.S. 3 Ali Imran: 169)

(38)  
THAABIT IBN QAIS  
The Speaker for the Messenger of Allah! 

        While Hassaan was the poet of the Messenger of Allah and Islam, Thaabit was his speaker. The words coming from his mouth were strong, comprehensive, and perfect.  

       In the Year of Delegations, some men of the Tamiim tribe arrived at Al-Madiinah and said to the Messenger of Allah (PBUH), "We have come to brag, so please permit our poet and speaker." The Messenger (PBUH) smiled and told them, "I permit your speaker. Let him speak."  
   
    Their speaker, `Utaarid Ibn Haajib, stood and boasted of his people's glories.  

        After he had finished, the Prophet (PBUH) told Thaabit Ibn Qais, "Answer him.' Thaabit stood up and said, "All praise to Allah Who created the heavens and earth, in which He controls everything, Whose throne extends over the heavens and the earth. And nothing is at all except out of His kindness. It is part of His omnipotence to make us models and selected His Messenger out of the best of His creation, among whom he is of the noblest descent and of the most sincere speech. He sent him down His book and made His creation in trust of him. And he was the best choice of Allah. Then he called on people to believe in him. The Muhaajiruun of his people and his own kinsmen believed in him. They were of the noblest descent and best deeds. Then we the Ansaar were the first to respond. We are the adherents of Allah and the ministers of His Messenger." 

        Thaabit witnessed the Battle of Uhud with the Messenger of Allah (PBUH) and the battles that followed. He was incredibly willing to sacrifice himself In the apostasy wars, he used to be in the vanguard, holding the Ansaar standard and striking with a sword that never retreated.  

        In the Battle of Al-Yamaamah, which we have already mentioned more than once, Thaabit witnessed the sudden assault that the army of Musailamah the Liar launched against the Muslims at the beginning of the battle. He shouted in his loud warning voice saying, "By Allah, we did not use to fight that way with the Messenger of Allah (PBUH)!"  
       
Then he went not far away, and returned after anointing himself and putting on his shroud. He shouted once more, "O Allah! I clear myself of what those people have done (i.e. the army of Musailamah) and I apologize to You for what they have done (i.e. the Muslims' slackness in fighting).''  

        Then Saalim, the servant of the Messenger of Allah (PBUH) who was holding the standard of the Muhaajiruun, joined him. Both dug a deep hole for themselves and then stood in it. They piled up the sand on themselves till it covered their hips. They stood as two gigantic mountains, with the lower body of each burned in the sand and fixed in the bottom of the hole, while their upper bodies received the armies of paganism and infidelity.  

        They kept striking with their swords whoever came near them from Musailamah's army until they were martyred in their place.  

       The sight of them (May Allah be pleased with them) was the greatest cry that contributed to bringing the Muslims back to their positions so that they could change the army of Musailamah the Liar into trodden sand.  

        Thaabit lbn Qais, who excelled as a speaker and warrior, used to be self-reproaching and to humble himself to Allah. Among the Muslims, he was extremely modest and afraid of Allah.   When this noble verse was sent down "GOD does not love any proud and boastful one" (31:18), Thaabit shut his house door and kept crying. It was a long time before the Messenger of Allah (PBUH) knew about him. He sent for him and asked. Thaabit said, "O Messenger of Allah! I like beautiful clothes and foot wear. I am afraid to be of the arrogant." 
The Prophet (PBUH) laughed with content and answered, 
"You are not one of them. You'll live and die with blessings and enter Paradise."  

        And when the following words of Allah the Exalted were sent down 

"O you who believe! Do not raise your voices above the Prophet's voice, and do not speak loudly to him, as you speak to one another, lest your deeds are rendered fruitless, while you are unaware" 
(49 :2), 

Thaabit shut himself indoors and kept crying again. When the Messenger missed him, he asked about him and sent or him. When Thaabit came, the Prophet (PBUH) asked him the reason for his absence. 

Thaabit answered, "I have a loud voice and I used to raise my voice above your voice, Messenger of Allah (PBUH). My deeds are rendered fruitless then, and I'm of the people of the Fire." 

The Messenger of Allah (PBUH) answered, 
"You are not one of them. You'll live praiseworthy and be martyred, and Allah will let you into Paradise."  

        One incident is left in Thaabit's story about which those whose thoughts, feelings, and views are limited to their restricted, tangible, materialistic world would not feel comfortable! Inspite of this, the incident was real, and is quite easily explained to whoever uses sight and insight together.  
     
   After Thaabit had fallen martyr in battle, one of the Muslims who had not known Islam until recently passed by him and saw Thaabit's precious armor on his corpse. He thought it was his right to take it and he did.  

        Let the narrator of the incident narrate it himself: While one of the Muslims was asleep, Thaabit appeared to him in his dream and said to him, "I entrust you with my will, so be careful not to say it's a dream and waste it. When I fell martyr yesterday, a Muslim man passed by me and took my armor. His house is on the outskirts of the town. His horse is tall. He put his pot on the armor and above the pot put his saddle. Go to Khaalid and tell him to take it. And when you go to Al-Madiinah and meet the successor of the Messenger of Allah (PBUH) Abu Bakr, tell him I owe so-and-so. Let him pay my loan."  

        When the man got up, he went to khaalid lbn Al-Waliid and related to him his dream. So Khaalid sent someone to bring the armor, and he found it exactly as Thaabit had described it. And when the Muslims went back to Al-Madiinah, the Muslim narrated the dream to the caliph, and he fulfilled Thaabit's will. There is not in Islam a dead man's will that was fulfilled in that way after his death except that of Thaabit  Ibn Qais.  

        Truly, man is a big mystery. 
"Think not of those who are killed in the Way of Allah as dead. Nay, they are alive, with their Lord, and they have provision" (3 :169). 
 

.¤ª"˜¨¯¨¨Tsabit Bin Qeis oo Thaabit Ibn Qais¸,ø¨¨"ª¤.


Categories: