acebook


Para Sahabat - The Companions

.¤ª"˜¨¯¨¨Umeir Bin Sa'ad o'Umair Ibn Sa'd¸,ø¨¨"ª¤.

 Tokoh yang tak ada duanya. 




Masih ingatkah anda sekalian akan Sa’id bin Amir . .. ?  Yaitu seorang zahid dan abid yang selalu melindungkan dirinya kepada Allah, yang telah diminta oleh Amirul Mu’minin Umar untuk menjadi gubernur dan kepala daerah Syria. . . ? Pada bagian pertama dari buku ini telah kita bicarakan dan kita saksikan hal-hal mena’ajubkan mengenai keshalehan, ketinggian akhlak dan sifat zuhudnya … !

Nah, sekarang pada lembaran-lembaran ini kita akan ber­temu pula dengan saudara, bahkan saudara kembarnya, baik dalam keshalehan, maupun dalam ketinggian akhlak dan sifat zuhud itu, begitupun dalam kebesaran jiwa yang jarang tan­dingannya … !

la adalah Umeir bin Sa’ad! Kaum Muslimin memberinya gelar “Tokoh yang tak ada duanya”.

 Cukup kiranya meyakin­kan, bahwa gelar ini diberikan secara bulat oleh para shahabat Rasul yang sama-sama mempunyai kelebihan, pengertian dan cahaya kebenaran …. !

Ayahnya Sa’ad al-Qari r.a. ikut menyertai Rasulullah dalam perang Badar dan peperangan-peperangan lain sesudahnya, serta setia memegang janjinya, sampai ia kembali menemui Allah karena gugur sebagai syahid di pertempuran Qadiaiah melawan Perri. Dibawanya anaknya sewaktu datang kepada Rasulullah hingga anak itu pun turut bai’at dan masuk Islam ….Semenjak Umeir memeluk Islam, dan menjadi ahli ibadah yang tidak berpiaah dari mihrab mesjid, ia meninggalkan segala kemewahan dan pergi bernaung ke bawah sakinah atau ke­tenangan.

Sukarlah anda akan menemukannya di bariaan pertama . . . , kecuali pada jama’ah shalat, memang ia mempertahankan shaf yang pertama itu untuk mengejar pahala bariaan muka … ; dan di medan jihad, ia selalu bergegas mengejar bariaan terdepan, karena ia selalu mendambakan diri untuk mendapatkan syahid. Selain dari hal-hal seperti itu, maka ia tetap tekun memperbanyak amal kebaikan, kepemurahan, keutamaan Serta ketaqwa­an….Ia seorang yang cepat menyadari kesalahan dan Sering menangiai dosanya . . . ! 

Seorang yang tiada terpikat oleh harta dunia dan selalu mencari jalan kembali kepada Tuhannya ….  Seorang musafir yang merindukan pulang kepada Allah, dalam setiap perjalanan dan di setiap pemukiman ….Sungguh, Allah telah menjadikan hati para shahabat lainnya kasih-sayang kepadanya, hingga ia pun menjadi buah hati dan tumpuan kasih mereka. Semua itu karena kekuatan imannya, kebersihan jiwanya, ketenangan jalan hidupnya, keharuman akhlaqnya, dan kecemerlangan penampilannya, menerbitkan kegembiraan dan kenangan bagi setiap orang yang menggauli atau melihatnya. Dan tak seorang atau satu pun yang diutama­kannya lebih dari Agamanya . . . !

Pada suatu hari didengarnya Jullas bin Suwaid bin Shamit, yang masih jadi kerabatnya, sedang berbincang-bincang di rumah­nya, katanya: “Seandainya laki-laki ini memang benar, tentulah kita ini lebih jelek dari keledai-keledai … !” 

Yang dimaksudkan dengan laki-laki di sisi ialah Rasulullah saw. sedang Jullas sendiri termasuk di antara orang-orang yang memeluk Islam karena terbawa-bawa keadaan.Sewaktu Umeir bin Sa’ad mendengar kata-kata tersebut, bangkitlah kemarahan dan kebingungan dalam hatinya yang biasa tenang dan tenteram itu. Kemarahan disebabkan oleh seorang yang telah mengaku menganut Islam berani merendah­kan Rasul dengan kata-kata yang keji itu …  Dan kebingungan karena fikirannya berjalan cepat tentang tanggung jawabnya terhadap apa yang telah didengarnya dan tak dapat diterimanya . . .. 

Akan disampaikannyalah segala apa yang telah didengarnya kepada Rasulullah saw.? 

Bagaimana caranya, padahal ia harus bersifat jujur dalam mengemukakannya .. . ?

 Ataukah ia akan berdiam diri saja lalu memendam di dalam dadanya semua yang didengarnya . . . ?

 Bagaimana …Dan di mana letak kebenaran penunaian dan cinta setianya kepada Rasul, yang telah membimbing mereka dari kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan ? Tetapi kebingungannya tidaklah berjalan lama, karena jiwa yang tulus selalu menemukan jalan keluar bagi penyelesaiannya . . . ! 

Dan dengan segera Umeir berubah menjadi seorang laki-laki perkasa dan Mu’min yang taqwa . . . , maka ia pun menghadapkan pembicaraan kepada Jullas bin Suwaid, katanya: “Demi Allah, hai Jullas! Engkau adalah orang yang paling kucintai, dan yang paling banyak berjasa kepadaku, dan yang paling tidak kusukai akan ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan . . . ! 

Sungguh, engkau telah melontarkan sesuatu ucapan, seandainya ucapan itu kusebarkan dan sumbernya daripadamu, niscaya akan menyakitkan hatimu Tetapi andainya kubiarkan saja kata-kata itu, tentulah Agamaku akan binasa padahal haq Agama itu lebih utama ditunaikan. Dari itu aku akan menyampaikan apa yang kudengar kepada Rasul­ullah … !”

Demikianlah Umeir telah memenuhi keinginan hatinya yang shaleh secara sempurna ….

 Pertama ia telah menunaikan haq majlis sesuai dengan amanat, dan dengan jiwanya yang besar membebaskan diri dari berperan sebagai orang yang mendengar­-dengarkan kata orang lalu menyampaikannya kepada orang lain. 

Kedua itu telah menunaikan haq Agamanya yaitu dengan menyingkapkan sifat kemunafikan yang meragukan.

 Dan ketiga ia telah memberi kesempatan kepada Jullas untuk kembali dari kesalahan dan memohon ampun kepada Allah atas keke­liruannya, yakni sewaktu secara terus terang dikatakannya kepadanya, bahwa persoalan ini akan diaampaikannya kepada Rasulullah saw. 

Seandainya ia sedia bertaubat dan memohon ampun, maka hati Umeir akan lega karena tak perlu lagi menerus­ kannya kepada Rasulullah saw.Tetapi rupanya Jullas telah dipengaruhi betul-betul oleh rasa sombong dengan dosanya itu, dan tidak ada perasaan menyesal sedikitpun atau keinginan untuk bertaubat. 

Hingga ter­paksalah Umeir meninggalkan mereka, katanya: “Akan kusampaikan kepada Rasulullah sebelum Tuhan menurunkan wahyu yang melibatkan diriku dengan dosamu …Rasulullah setelah mendapat laporan dari Umeir mengirim. kan orang mencari Jullas, tetapi setelah Jullas dihadapkan ia mengingkari katanya itu, bahkan ia mengangkat sumpah palsu atas nama Allah . . . ! Tetapi ayat al-Quran telah datang memisahkan antara yang haq dengan yang bathil:

“Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu (yang menyakitkan hatimu). Padahal mereka telah mengucapkan kata-kata kufur, dan mereka telah kafir sesudah Islam, serta mereka mencita-citakan sesuatu yang tak dapat mereka capai …. Dan tak ada yang menimbulkar  dnedam kemarahan mereka hanyalah lantaran Allah dan Rasulnya telah menjadikan mereka berkecukupan disebabkan karunia-Nya . . . . Seandainya mereka bertaubat, maka itulah yang terlebih baik bagi mereka, dan seandainya mereka berpaling, Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat. Mereka tidak akan mempunyai pembela maupun penolong di muka bumi … ! “(Q.S. 9 at-Taubah:74)

Dengan turunnya ayat Quran ini, terpaksalah Jullas meng­akui pembicaraannya, dan meminta ampun atas kesalahannya, teristimewa di kala diperhatikannya ayat yang mulia yang memutuskan menghinakannya, tetapi di saat yang sama menjanjikan rahmat Allah seandainya ia bertaubat dan mencabut kata-kata­nya:

 “Maka seandainya mereka bertaubat, itulah yang terlebih baik untuk mereka… !”

Dan karenanya tindakan Umeir ini menjadi kebaikan dan berkat kepada Jullas, hingga ia bertaubat dan setelah itu ke­Islamannya menjadi baik . . . . Nabi memegang telinga Umeir dan berkata kepadanya sambil memuaskan hatinya dengan pujian-pujian:

“Hai anak muda, sungguh nyaring telingamu . . . dan Tuhanmu membenarkan tindakanmu … !”

Aku sungguh beruntung sekali dapat menemukan Umeir untuk pertama kah, semenjak aku menulia buku mengenai Umar bin Khatthab mulai empat tahun yang lalu. kisahnya bersama Amirul Mu’minin Umar sungguh mempesonakanku, hingga rasanya tak ada lagi cerita lain yang lebih mempesona dari itu . . . . Nah, cerita inilah sekarang yang akan kupaparkan kepada anda sekalian, agar anda ikut menyaksikan suatu kebesaran iatimewa dalam kecemerlangan yang mengagumkan. Anda tahu bahwa Amirul Mu’minin Umar r.a. selalu berhati-­hati memilih para gubernurnya, seolah-olah ia memilih orang-­orang yang sama mutunya dengan dirinya …. la selalu memilih­nya dari orang-orang yang zuhud dan shaleh, dan orang-orang yang dipercaya dan jujur . . . yang tidak mengejar pangkat atau kedudukan bahkan tak hendak menerima jabatan tersebut kecuali karena Amirul Mu’minin memaksanya untuk men­jabatnya ….Sekalipun pandangan tajam dan pengalamannya luas, namun dalam memilih gubernur-gubernur dan pembantu-pembantu utamanya ini beliau selalu menimbangnya dalam waktu yang panjang dan mengamatinya dengan teliti.

 Beliau selalu meng­ulang-ulang pesan atau fatwanya yang mengesankan itu sebagai berikut:
“Aku menginginkan seorang laki-laki bila ia berada dalam suatu kaum, padahal ia adalah rakyat biasa,tetapi menonjol seolah-olah ia lah pemimpinnya .. .. Dan bila ia berada di antara mereka sebagai pemimpinnya, ia menampakkan diri sebagai rakyat biasa . . . . Aku menghendaki seorang gubernur yang tidak membedakan dirinya dari manusia kebanyakan dalam soal pakaian, makanan dan tempat tinggal . . . . Di­tegakkannya shalat di tengah-tengah mereka . . . berbagi rata dengan mereka berdasarkan yang haq . . . dan tak pernah ia menutup pintunya untuk menolak pengaduan mereka … !”

Maka berdasarkan norma-norma dan peraturan yang keras inilah, ia di suatu hari memilih Umeir bin Sa’ad untuk menjadi gubernur di Homs. Umeir berusaha menolak dan melepaskan diri dari jabatan tersebut tetapi sia-sia, karena Amirul Mu’minin tetap mengharuskan dan memaksanya untuk menerimanya ….Umeir pun memohon kepada Allah petunjuk dengan shalat iatikharah, dan kemudian melaksanakan tugas kewajibannya …. Dan setelah berjalan setahun masa jabatannya di Homs itu, tak ada hasil pemungutan pajak yang sampai ke Madinah …. Bah­kan tak ada sepucuk surat pun yang datang kepada Amirul Mu’minin daripadanya ….

Amirul Mu’minin memanggil penulisnya, katanya: “Tulislah surat kepada Umeir agar ia datang pada kita!”
Maka di sinilah saya akan meminta keidzinan anda untuk melaporkan pertemuan di antara Umar dan Umeir, sebagaimana tercantum dalam buku saya “Di hadapan Umar”, sebagai berikut: 

“Di suatu hari jalan-jalan kota Madinah menyaksikan seorang laki-laki dengan rambut kusut dan tubuh berdebu. Ia diliputi kelelahan karena berjalan jauh. Langkah-langkahnya seakan‑akan tercabut dari tanah disebabkan lamanya kepayahan dalam perjalanan, dan tenaganya yang sudah habis terkuras . . . . Di atas pundak kanannya terdapat buntil kulit dan sebuah piring … sedang di pundak kirinya kendi beriai air … ! 
Ia bertelekan pada sebuah tongkat, yang tidak akan terasa berat bila dibawa oleh orang yang kurus dan lemah . . . . Ia menghampiri majlisUmar dengan langkah yang gontai, lalu ucapnya: “Assalamu­’alaikum ya Amirul Mu’minin . . . !” 
Umar membalas salamnya kemudian menanyainya. Hatinya sedih melihatnya dalam ke­adaan payah dan letih itu.
 “Apa kabar hai Umeir?”
 Jawab Umeir: Keadaanku sebagaimana yang anda lihat sendiri . . . . Bukankah anda melihat aku berbadan sehat dan berdarah bersih, dan dunia di tanganku yang dapat kukendalikan semauku . . .”  
Apa yang kamu bawa itu?   
Yang kubawa ialah buntil atau bungkusan tempat membawa bekal . .. , piring tempat aku makan, kendi tempat air minum dan wudhu, kemudian tongkat untuk bertelekan dan guna melawan musuh jika datang menghadang .. .. Demi Allah, dunia ini tak lain hanyalah pengikut bagi bekal kehidupanku . . . !
 — Apakah anda datang dengan berjalan kaki?
 — Benar!
 — Apa tak ada orang yang mau mem­berikan binatang kendaraannya untuk kamu tunggangi . . . ?
 — Mereka tidak menawarkan dan aku tidak pula memintanya. 
—Apa yang kamu lakukan mengenai tugas yang kami berikan padamu? 
— Aku telah mendatangi negeri yang anda titahkan itu. Orang-orang shaleh di antara penduduknya telah kukumpulkan. Kuangkat mereka mengurus pemungutan pajak dan kekayaan negara. Bila telah terkumpul, kupergunakan. kembali pada tempatnya yang wajar untuk kepentingan mereka. Dan kalau ada kelebihan, tentulah sudah kukirimkan ke sini … !

 — Kalau begitu kau tak membawa apa-apa untuk kami? 
— Tidak … !”
Maka berserulah Umar dalam keadaan bangga dan berbaha­gia:  “Tetapkan kembali jabatan gubernur bagi Umeir yang dijawab oleh Umeir dengan mengelakkan diri secara bersungguh­ sungguh, katanya: “Masa yang demikian itu telah berlalu … aku tak hendak menjadi pegawai anda lagi, atau pegawai pejabat setelah anda … !”

Cerita ini bukanlah skenario yang kami atur sendiri, dan bukan pula cerita yang dibuat-buat … tetapi benar-benar peristiwa sejarah yang pada suatu masa pernah disaksikan oleh bumi Madinah selaku ibu kota Islam yakni di saat-saat kejayaan dan kebesarannya. Maka dari tipe golongan manakah tokoh-tokoh utama dan luar biasa itu … ?Umar r.a. selalu berang angan dan mengatakan: “Aku ingin sekali mempunyai beberapa orang laki-laki yang seperti Umeir akan jadi pembantuku untuk melayani Kaum Muslimin .. . . “. 

Sebabnya, Umeir yang dilukiskan oleh para shahabatnya sebagai  “tokoh yang tak ada duanya” benar-benar telah meningkat naik dan dapat mengatasi kelemahan dirinya selaku manusia berhadapan dengan harta benda dunia dan kehidupan yang penuh dengan onak dan duri ini …. 

Di waktu ia diharus­kan melaksanakan pemerintahan dan pemimpin, maka keduduk­annya yang tinggi itu hanya semakin menambah sifat wara’ dari orang suci ini, dengan perkembangan, pertumbuhan dan kecemerlangan ….

Ketika ia menjabat sebagai gubernur di Horns itu ia telah menggariskan tugas kewajiban seorang kepala pemerintahan Islam dalam kata-kata yang selalu diutarakannya dalam meng­gembleng Kaum Muslimin dari atas mimbar. 

Kata-kata itu demikian bunyinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Islam mempunyai dinding teguh dan pintu yang kukuh . . . . Dinding Islam itu ialah keadilan . . . sedang pintunya ialah kebenaran . . . . Maka apabila dinding itu telah dirobohkan, dan pintunya didobrak orang, Islam pun akan dapat dikalahkan. Islam akan senan­tiasa kuat selama pemerintahannya kuat.

 Kekuatan peme­rintah tidak terletak dalam angkatan perang, atau keperkasa­an angkatan kepulisian . . . .  Tetapi dalam realita pelaksana, melaksanakan segala ketentuan dengan jujur dan benar disertai menegakkan keadilan . . !” Dan sekarang dalam kita melepas Umeir dan menghor­matinya dengan penuh kebesaran dan hati yang khusyu’, marilah kita menundukkan kepala dan kening kita: —

Bagi sebaik-baik guru, yaitu Nabi Muhammad. Bagi ikutan orang-orang taqwa, yakni Nabi Muhammad. Bagi pembawa rahmat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia sepanjang hayatnya. Semoga shalawat dan salam-Nya terlimpah kepadanya – . – - Begitu pun ucapan selamat dan berkah-Nya . . . . Semoga ter­limpah pula salam atas keluarganya yang suci . .. .

Begitupun terlimpah atas para shahabatnya yang terpuji …


(30)  
`UMAIR IBN SA'D  
The Matchless! 
        Do you remember Sa'iid Ibn `Aamir ? That ascetic and steady worshiper who was forced by the Commander of the Faithful `Umar to accept the governorship of Syria?  

        We spoke about him in the first part of this book, and we saw the wonder of wonders while talking about his asceticism, his renouncement of all worldly pleasure, and his piety.  

        But now we will meet on these pages a brother of his, better to say a twin brother, an identical twin in terms of piety, asceticism, elevation and greatness of soul, which is actually incomparable.  

        It is `Umair Ibn Sa'd. He was called by the Muslims "The Matchless". What do you think about a man about whom there was a public consensus that he deserved that title, a consensus of the Prophet's Companions, with all the merit, enlightment, and intellect they possessed? 

       His father was Sa'd, the reciter (May Allah be pleased with him). He experienced the Battle of Badr with the Messenger of Allah and all the following events and stayed loyal to his oath till he passed away as a martyr in the Battle of Al-Qaadisiyah. 

        He brought his son with him to the Prophet (PBUH) to swear the oath of allegiance and to embrace Islam.  
     
   From the day `Umair embraced Islam, he turned into a worshiper dwelling at Allah's mihrab (prayer niche), escaping and running away from the lights of fame, withdrawing to the tranquility and calmness of shadow.  

        It is absolutely out of the question that you find him in the front rows, except the row of prayer he stations himself in the front row to be granted the reward of the highest in faith - and the rows of jihaad - he hastens to the front row, hoping to be one of the martyrs. Other than that, he is dedicated to attaining righteousness, piety, and virtue. He is a returner to Allah, weeping for his sins! He is a devotee to Allah, hoping to be accepted as a faithful returner to Him ! He is a traveler to Allah in all journeys and all instances. 

        Allah blessed him with his companions love for him. He was the delight of their eyes and the darling of their hearts. That was because of his strong, firm belief, his pure soul, his calm nature, the scent of his good qualities, and his beaming appearance. All that made him the joy and pleasure of all those who met or saw him.  

       No one and nothing whatsoever was superior to his religion. He once heard Julaas Ibn Suwaid Ibn As-saamit, one of his close relatives, saying, "If the man is truthful, then we've more evil than mules!" He meant by "the man" the Prophet (PBUH). Julaas was one of those who embraced Islam out of fear. 

       When `Umair heard that statement, his calm, quiet spirit burst into anger and confusion.

Anger because one of those who pretended to be a Muslim had insulted the Prophet by this wicked language. Confusion because a lot of thoughts came quickly to his mind, all revolving around his responsibility towards what he had just heard and denied.  
      
  Should he communicate all that he had heard to the Prophet? How, and what about the trustworthiness of private meetings? Should he keep silent and leave what he had heard within his breast? How? And where was his loyalty to the Prophet (PBUH) who was sent by Allah to guide them after having lived astray and to illuminate them after having lived in darkness?  

 However, his confusion did not last long. The truthfulness to himself helped him to find a way out. `Umair immediately behaved like a strong man and a pious believer. He turned to Julaas Ibn Suwaid, "O Julaas, by Allah, you're one of the most beloved to myself and the last one I would like to see afflicted by something he dislikes. You've now said something that if I spread it around, it would harm you; if I keep silent, I would ruin my religion, and the fulfillment of duty towards religion has priority. So I'm going to inform the Messenger of Allah what you've said!"  

        Here `Umair pleased his pious conscience completely. First, he fulfilled the duty of preserving the trustworthiness of private talks and elevated his great noble soul away from the role of a slandering listener. Second, he fulfilled his duty towards his religion and shed light on a suspicious hypocrite. Third, he gave Julaas a chance to reconsider his fault and to ask Allah for forgiveness. if he had done that straightforwardly, then his conscience would have found peace, because it would not have been necessary any more to inform the Prophet (PBUH).  

        However, Julaas's pride made him hold to his falsehood. His lips did not spell out the word "sorry" nor any other apology. `Umair left him saying, "I will inform the Prophet (PBUH) before a revelation makes me a partner of your sin."  

       The Prophet (PBUH) sent for Julaas, who denied and moreover swore by Allah that he had not said that! However, a Qur'aanic verse demonstrated clearly the true and the false: "They swear by GOD that they said nothing, but they indeed uttered the word of unbelief, and disbelieved after they had become Muslims, and they intended a plot but could not accomplish what they intended and they only showed hostility towards Islam after GOD and His Messenger had enriched them out of His Bounty, so if they repent it will be better for them, so if they turn away, GOD will chastise them with a painful chastisement in this world and the Hereafter, and on earth there will be none to protect or help them" 
(9 : 74).  
        Julaas found himself forced to confess his fault and to apologize, especially when he heard the holy verse which accused him, promising him at the same moment Allah's mercy if he repented and refrained from that: "So if they repent it will be better for them".  

       `Umair's action was a blessing for Julaas. Thus Julaas repented and his Islamic conduct turned to be more righteous than before. The Prophet (PBUH) held his ear and praised him, "O my boy! Your ear was loyal and your Lord believed you."  

        I was delighted when I met `Umair for the first time four years ago while composing my book Between the Hands of `Umar. I was amazed. Nothing could amaze me so much as what happened between him and the Commander of the Faithful. I am going to narrate to you that event for you to enjoy with me "excellence" in its most precious and magnificent form.  

       You all know that the Commander of the Faithful, `Umar (May Allah be pleased with him) chose his governors very cautiously as if choosing his destiny He always chose them from among the ascetic, pious, honest, and truthful: those who escaped from power and authority and would not accept it unless forced by the Commander of the Faithful to do so.  

        Despite his unerring insight and his overwhelming experience, he was very deliberate when choosing his governors and counselors, dealing scrupulously with his decision.  

        He never stopped his famous statement: "I need a man who, if among his clan would seem to be their prince while he isn't so in reality, and who, if among them would seem to be an ordinary one while being their prince in reality. I need a governor who won't favor himself above the other people in terms of clothing, food, or dwelling; who will lead them in their prayers, distribute their dues among them fairly, and rule them justly, never shutting his door leaving their needs and wishes unfulfilled.  

        According to these strict requisites he chose `Umair Ibn Sa'd to be a governor over Homs. `Umair tried to free himself of that task and to save himself, but the Commander of the Faithful obligated him and imposed it upon him forcefully. `Umair asked Allah for proper guidance. Then he went to carry out his duty and task.  

        In Homs, a whole year passed and no land tax reached Al Madiinah, nor did a single message reach the Commander of the Faithful. The Commander of the Faithful called his scribe, to whom he said, Write to `Umair ordering him to come here."  

       Will you allow me to tell you about the meeting between `Umar and `Umair as it was related in my previous book Between the Hands of `Umar? 

        One day the roads of Al-Madiinah witnessed a dusty, shaggy man, covered by the hardship of travel and hardly pulling his feet out from the hot sandy ground due to his long suffering and the tremendous effort he spent. On his left shoulder there was a sack and a wooden bowl. On his right shoulder there was a small waterskin filled with water. He supported his thin, weak, tired body with a stick.  

        He turned to `Umar's assembly with very slow, heavy steps. "O Commander of the Faithful, peace be upon you.  

        `Umar replied. Deeply afflicted by the scene of his weakness and over exertion, he asked him, `What's wrong with you, `Umair?"  

        "Can't you see I'm healthy, possessing a pure conscience and possessing the whole world?"  

        `Umar asked, "What do you have with you?"  

        `Umair replied, "I've a sack in which I carry my food, a bowl in which I eat, my utensils for my ablution and drink, and a stick to lean on and fight an enemy if he crosses my way. By Allah, the whole world is an obedient slave of my belongings."  

        "Did you come walking on foot?" "Yes."  

        "Didn't you find anyone who would give you an animal to ride on?"  
   
     "They didn't offer and I didn't ask them."  

       "What did you do with what we charged you with?"  

        "I went to the country to which you sent me. There I gathered all its virtuous inhabitants and made them in charge of levying the taxes, so when they did that I put the money there where it belongs. If anything had remained I would have sent it to you."  

       "Didn't you bring us anything?"  
        
  "no"  

        Hereby `Umar shouted, amazed and happy, `Reappoint `Umair." But `Umair replied with complete composure, "Those were old days. I won't work for you or for anyone else!"  

       This scene is not a written drama nor an invented conversation. It is a historical event  3 witnessed by the soil of Al Madiinah, the old capital of Islam during great unforgotten days. What kind of men were those unparalleled, elevated ones!  

        Umar (May Allah be pleased with him) was always wishing How much do I wish to have men like `Umair to assist me in ruling the Muslims!  

That was because `Umair, who had been fairly described by his companions as being "The Matchless", could prove superiority over all human weakness caused by our material existence and our thorny life.  

        When this great saint was destined to face the test of power and authority, his piety was not afflicted. It rather became more elevated, raised beaming and bright.  

        When he was Governor of Homs, he drew a dear picture of the tasks of a Muslim ruler. How often did his words from the pulpit shake the multitude of Muslims: "Islam is a well-fortified wall and a firm gate. As for the wall, that's justice; and the gate is truth. If the wall is torn down and the gate destroyed, then Islam loses its protective strength. Islam remains well-fortified as long as its reign is mighty. The might of its reign cannot be realized by killing with swords or by slashing with whips; rather by the fulfillment of truth and justice!"  
   
        Now we greet `Umair for the last time, greeting him with humility and respect! Let us bow our heads for the best tutor, Muhmmad, the Imam of all the pious, Muhammad, Allah's mercy sent to the people in the midst of the heat and drought of life.  
  
        May Allah's peace be upon him, may Allah's mercy be upon him, may Allah's salutations be unto him, may Allah's blessings be upon him, and peace be upon all pious ones and peace be upon all his righteous Companions.




.¤ª"˜¨¯¨¨Umeir Bin Sa'ad o'Umair Ibn Sa'd¸,ø¨¨"ª¤.




Categories: