acebook




.¤ª"˜¨¯¨¨Shuhaib Bin Sinan oSuhaib Ibn Sinaan¸,ø¨¨"ª¤.
Abu Yahya yang selalu mendapat laba. 

Ia dilahirkan dalam lingkungan kesenangan dan kemewahan . . . . Bapaknya menjadi hakim dan walikota “Ubullah” sebagai pejabat yang diangkat oleh Kisra atau maharaja Persi. Mereka adalah orang-orang Arab yang pindah ke Irak, jauh sebelum datangnya Agama Islam. Dan di istananya yang terletak di pinggir sungai Efrat ke arah hilir “Jazirah” dan “Mosul”, anak itu hidup dalam keadaan senang dan bahagia ….

Pada suatu ketika, negeri itu menjadi sasaran orang-orang Romawi yang datang menyerbu dan menawan sejumlah pen­duduk, termasuk di antaranya Shuhaib bin Sinan …. 

Ia diper­jual belikan oleh saudagar-saudagar budak belian, dan per­kelanaannya yang panjang berakhir di kota Mekah, yakni setelah menghabiskan masa kanak-kanak dan permulaan masa remaja­nya di negeri Romawi, hingga lidah dan dialeknya telah menjadi lidah dan dialek Romawi.
Majikannya tertarik akan kecerdasan, kerajinan dan kejujurannya, hingga Shuhaib dibebaskan dan dimerdekakannya, dan diberinya kesempatan untuk dapat berniaga bersamanya.

Maka pada suatu hari . . . , yah, marilah kita dengarkan cerita kawannya yang bernama. ‘Ammar bin Yasir, mengisahkan peristiwa yang terjadi pada hari itu: “Saya berjumpa dengan Shuhaib bin Sinan di muka pintu rumah Arqam, yakni ketika Rasulullah saw. sedang berada di dalamnya.

—  Hendak ke mana kamu? tanya saya kepadanya.
—  Dan, kamu hendak ke mana? jawabnya.

Saya hendak menjumpai Muhammad saw. untuk menjelaskan tentang aqidah Agama Islam kepada kami, setelah kami meresapi apa yang dikemukakannya kami pun menja pemeluknya. Kami tinggal di sana sampai petang hari. Lalu dengan sembunyi-sembunyi kami keluar meninggalkannya…

Jadi Shuhaib telah tabu jalan ke rumah Arqam …. Artinya ia telah mengetahui jalan menuju petunjuk dan cahaya, juga ke arah pengurbanan berat dan tebusan besar … Maka melewati pintu kayu yang memisah bagian dalam rumah Arqam dari bagian luarnya, tidak hanya berarti melangkah bandul pintu semata …. tetapi hakikatnya adalah melangkah batas-batas alam secara keseluruhan … ! Yakni alam lama dengan segala apa yang diwakilinya baik berupa keagamaan dan akhlaq, maupun berupa peraturan yang harus dilangkahinya menuju alam baru dengan segala aspek dan persoalannya …. Melangkahi bandul pintu rumah Arqam yang lebarnya tidak lebih dari satu kaki, pada hakekat dan kenyataannya adalah melangkahi bahaya besar luas dan lebar. Maka menghampiri rintangan itu — maksud kita bandul tersebut, — mema’lumkan datangnya suatu masa yang penuh dengan tanggung jawab yang tidak enteng … ! Apalagi bagi fakir miskin, budak belian dan orang peranta memasuki rumah Arqam itu artinya tidak lain dari suatu pengorbanan yang melampaui kemampuan yang lazim dari manusia. Shahabat kita Shuhaib adalah anak pendatang atau orang perantau, sedang shahabat yang berjumpa dengannya di ambang pintu rumah tadi — yakni ‘Ammar bin Yasir — adalah seorang miskin . . . . Tetapi kenapa keduanya itu berani menghadapi bahaya, dan kenapa mereka bersiap sedia untuk menemuinya … ?

Nah, itulah dia panggilan iman yang tak dapat dibendung … ! Dan itulah dia pengaruh kepribadian Muhammad saw., yang kesan-kesannya telah mengisi hati orang-orang baik dengan hidayah dan kasih sayang … ! Dan itulah dia daya pesona dari barang baru yang bersinar cemerlang, yang telah memukau akal fikiran yang muak melihat kebasian barang lama, bosan dengan kesesatan dan kepalsuannya . . .! Dan di atas semua ini, itulah rahmat dari Allah Ta’ala yang dilimpahkan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, serta pe­tunjuk-Nya yang diberikan kepada orang yang kembali dan me­nyerahkan diri kepada-Nya.

Shuhaib telah menggabungkan dirinya dengan kafilah orang­orang beriman. Bahkan ia telah membuat tempat yang luas dan tinggi dalam barisan orang-orang yang teraniaya dan ter­siksa! Begitu pula dalam barisan para dermawan dan penanggung uang tebusan … !

Pernah diceritakan keadaan sebenarnya yang membuktikan rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang Muslim yang telah bai’at kepada Rasulullah dan bernaung di bawah panji-­panji Agama Islam, katanya: “Tiada suatu perjuangan bersenjata yang diterjuni Rasulullah, kecuali pastilah aku menyertainya …. Dan tiada suatu bai’at yang dijalaninya, kecuali tentulah aku menghadirinya …. Dan tiada suatu pasukan bersenjata yang dikirimnya kecuali aku termasuk sebagai anggota rombongannya …. Dan tidak pernah belian bertempur baik di masa-masa perrtama Islam atau di masa-masa akhir, kecuali aku berada di sebelah kanan atau di sebelah kirinya …. Dan kalau ada sesuatu yang dikhawatirkan Kaum Muslimin di hadapan mereka pasti aku akan menyerbu paling depan, demikian Pula kalau ada yang dicemaskan di belakang mereka, pasti aku akan mundur ke belakang ….Serta aku tidak sudi sama sekali membiarkan Rasulullah saw. berada dalam jangkauan musuh sampai ia kembali menemui Allah . . ..”

Suatu gambaran keimanan yang istimewa dan kecintaan yang luar biasa ….Sungguh, Shuhaib semoga Allah meridlainya dan meridlai semua shahabatnya layak untuk mendapatkan keunggulan iman ini, semenjak ia menerima cahaya Ilahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasulullah saw. 

Mulai saat itu hubungannya dengan dunia dan sesama manusia, bahkan dengan dirinya pribadi mendapatkan corak baru. Jiwanya telah tertempa .menjadi keras dan ulet, zuhud tak kenal lelah, hingga dengan bekal tersebut ia berhasil mengatasi segala macam peristiwa dan menjinakkan marabahaya ….

Dan sebagai telah kita kemukakan dulu, ia selalu menghadapi segala akibat dan risiko dengan keberanian luar biasa. la tak hendak mundur dari segala pertempuran atau mengucilkan diri dari bahaya, sedang kegemarannya dialihkannya dari menumpuk keuntungan kepada memikul tanggung jawab, dari meni’mati kehidupan kepada mengarungi bahaya dan mencintai maut …. Hari-hari perjuangannya yang mulia dan cintanya yang luhur itu diawali pada saat hijrahnya. Pada hari itu ditinggalkan­nya segala emas dan perak serta kekayaan yang diperolehnya sebagai hasil perniagaan selama berbilang tahun di Mekah. Semua kekayaan ini, yakni segala yang dimilikinya, dilepaskan dalam sekejap saat tanpa berfikir panjang atau mundur maju.

Ketika Rasulullah hendak pergi hijrah, Shuhaib mengetahui­nya, dan menurut rencana ia akan menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, di samping Rasulullah dan Abu Bakar …. 

Tetapi orang-orang Quraisy telah mengatur persiapan di malam harinya untuk mencegah kepindahan Rasulullah. Shuhaib terjebak dalam salah satu perangkap mereka, hingga terhalang untuk hijrah untuk sementara waktu, sementara Rasulullah dengan shahabatnya berhasil meloloskan diri atas barkah Allah Ta’ala. Shuhaib berusaha menolak tuduhan Quraisy dengan jalan bersilat lidah, hingga ketika mereka lengah ia naik ke punggung untanya, lalu dipacunya hewan itu dengan sekencang-kencangnya menuju Sahara luas . . . . Tetapi Quraisy mengirim pemburu­-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha itu hampir berhasil. Tapi demi Shuhaib melihat dan berhadapan dengan mereka ia berseru katanya: “Hai orang-orang Quraisy! Kalian sama mengetahui bahwa saya adalah ahli panah yang paling mahir . . . . Demi Allah, kalian takkan berhasil men­dekati diriku, sebelum saya lepaskan semua anak panah yang berada dalam kantong ini, dan setelah itu akan menggunakan pedang untuk menebas kalian, sampai senjata di tanganku habis semua! Nah, majulah ke sini kalau kalian berani … Tetapi kalau kalian setuju, saya akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, asal saja kalian membiarkan daku … !

Mereka sama tertarik dengan tawaran terakhir itu, dan setuju menerima hartanya sebagai imbalan dirinya, kata mereka: “Memang, dahulu waktu kamu datang kepada kami, kamu adalah seorang miskin lagi papa. Sekarang hartamu menjadi banyak di tengah-tengah kami hingga melimpah ruah. Lalu kami hendak membawa pergi bersamamu semua harta ke­kayaan itu … ? “

Shuhaib menunjukkan tempat disembunyikan hartanya itu, hingga mereka membiarkannya pergi sedang mereka kembali ke Mekah. 

Dan suatu hal yang aneh ialah bahwa mereka memper­cayai ucapan Shuhaib tanpa bimbang atau bersikap waspada, hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta agar ia mengucapkan sumpah … ! Kenyataan ini menunjukkan tingginya kedudukan Shuhaib di mata mereka, sebagai orang yang jujur dan dapat dipercayai.

Shuhaib melanjutkan lagi perjalanan hijrahnya seorang diri tetapi berbahagia, hingga akhirnya berhasil menyusul Rasulullah saw. di Quba. 

Waktu itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa orang shahabat, ketika dengan tidak diduga Shuhaib mengucapkan salamnya. Dan demi Rasulullah melihatnya, beliau berseru dengan gembira:
“Beruntung perdaganganmu, hat Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!”

Dan letika itu juga turunlah ayat: Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridlaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hambaNya! (Q.S.2 al-Baqarah:207)

Memang, Shuhaib telah menebus dirinya yang beriman itu dengan segala harta kekayaan, ia mengumpulkan harta kekayaan itu dengan menghabiskan masa mudanya, yakni seluruh usia muda­nya …. dan sedikit pun ia tidak merasa dirinya rugi! Apa artinya harta, emas, perak dan seluruh dunia ini, asal iman­nya tidak terganggu, hati nuraninya berkuasa dan kemauannya menjadi raja!

la amat disayangi oleh Rasulullah saw. Dan di samping keshalihan dan ketaqwaannya, Shuhaib adalah seorang periang dan jenaka. Pada suatu hari Rasulullah melihat Shuhaib sedang makan kurma dan salah satu matanya bengkak. Tanya Rasulullah kepadanya sambil tertawa: “Kenapa kamu makan kurma sedang sebelah matamu beng­kak?” “Apa salahnya?” ujar Shuhaib; saya memakannya dengan mata yang sebelah lagi … ?

Shuhaib adalah pula seorang pemurah dan dermawan. Tun­jangan yang diperolehnya dari Baitul mal dibelanjakan semuanya di jalan Allah, yakni untuk membantu orang yang kemalangan dan menolong fakir miskin dalam kesengsaraan, memenuhi firman Allah Ta’ala: Dan diberihannya makanan yang disukainva kepada orang miskin, anah yatim dan orang tawanan 11 . (Q.S.76 ad-Dahr:8)

Sampai-sampai kemurahannya yang amat sangat itu mengundang peringatan dari Umar, katanya kepada Shuhaib:
“Saya lihat kamu banyak sekali mendermakan makanan hingga melewati batas … ! “

Jawab Shuhaib: “Sebab saya pernah mendengar Rasulullah ber­sabda:
Sebaik-baik kaftan ialah yang sutra memberi makanan.”

Dan setelah diketahui kehidupan Shuhaib berlimpah ruah dengan keutamaan dan kebesaran, maka dipilihnya oleh Umar bin Khatthab untuk menjadi imam bagi Kaum Muslimin dalam shalat mereka, merupakan suatu keistimewaan dan kecemer­langan ….

Tatkala Amirul Mu’minin diserang orang sewaktu melakukan shalat shubuh bersama Kaum Muslimin . . . , maka disampaikan­nyalah pesan dan kata-kata akhirnya kepada para shahabat, katanya:  “Hendaklah Shuhaib menjadi imam Kaum Muslimin dalam shalat … ! “

Ketika itu Umar telah memilih enam orang shahabat yang diberi tugas untuk mengurus pemilihan khalifah baru. Dan khalifah Kaum Musliminlah yang biasanya menjadi imam dalam shalat-shalat mereka. Maka siapakah yang akan bertindak sebagai imam dalam saat-saat vakum antara wafatnya Amirul Mu’minin dan terpilihnya khalifah baru itu?

Tentulah Umar, apalagi dalam saat-saat seperti itu, ya’ni ketika ruhnya yang suci hendak berangkat menghadap Allah, akan berfikir seribu kah sebelum menjatuhkan pilihannya. Maka kalau ia telah memutuskan pilihannya, tentulah tak ada orang yang lebih beruntung dan memenuhi syarat dari orang yang dipilihnya itu.

Dan Umar telah memilih Shuhaib ….
Dipilihnya untuk menjadi imam untuk Kaum Muslimin me­nunggu munculnya khalifah barn yang akan melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Dan ketika ia memilihnya, bukan tidak tabu bahwa lidah Shuhaib adalah lidah asing. Maka peristiwa ini merupakan kesempurnaan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang shalih, Shuhaib bin Sinan ….



(7)  
SUHAIB IBN SINAAN  
O Abu Yahia! A Successful Purchase! 

        He was born surrounded by comfort and luxury. His father was the governor of Al Uballah and its ruler on behalf of the Persian king, and was one of the Arabs who emigrated to Iraq long before Islam. In his palace on the bank of Euphrates, next to Mosul, the child lived happily and comfortably.  

        One day the country was attacked by the Romans (Byzantines) who captured a large number and enslaved the boy Suhaib lbn Sinaan.  

        He was taken by slave traders until finally his long journey ended in Makkah. There he was sold to `Abd Allah lbn Jud'aan, after having spent his childhood and most of his youth in Roman lands, where he adopted their language and dialect.  

        His master was so amazed by his intelligence, energy, and sincerity that he emancipated him and set him free, giving him the privilege to trade with him.  

        One day.. . let his friend `Ammaar Ibn Yaasir tell us what happened on that day: I met Suhaib lbn Sinaan in front of the door of Daar Al-Arqam when the Prophet (PBUH) was there. I asked, "What do you want?" He answered, "And what do you want?" I said, "I want to meet Muhammad (PBUH) to hear what he is saying." He said, "I want the same." We both entered and met the Prophet (PBUH), who invited us to embrace Islam, and we converted. We stayed as we were till evening. Secretly he went out.  

        Thereupon, Suhaib got to know his path to Daar Al- Arqam. He got to know his path to guidance and light, but also to difficult sacrifice and great redemption. Entering through that wooden door, which separated Daar Al-Arqam and what was inside from the outer world, was not just crossing a threshold, but crossing of a whole world of limitations. An old world, with all that represented it - religion, manners, customs and life - crossing it towards a new world with all that represented it - religion, manners, customs, and life. Crossing the threshold of Daar Al-Arqam, a threshold not wider than one foot, meant, in reality, to cross an ocean of terror, wide and expanding. Stepping over such an obstacle, such a threshold, meant the beginning of an era full of great responsibilities. As for the poor, the stranger, the enslaved, stepping over Daar Al-Arqam's threshold meant exceptional, extraordinary sacrifices. Suhaib, our hero, was a stranger; Ammar Ibn Yaasir, his friend whom he met in front of the door, was a poor man. Why did they go voluntarily to face terror and, moreover, do their best when they me with it in combat?  

        It was the call of faith, which could not be resisted. It was the good character of Muhammad (PBUH), the scent of which filled the hearts of the reverent with love and guidance. It was his new, shining magnificence. Dazzling minds were fed up with the old, its misguidance and bankruptcy. Above all, it was Allah's mercy, bestowed upon whomever He wishes, His guidance and protection bestowed on whomever turns to Him.  

        Suhaib holds a position in the ranks of the faithful. He held a great and high position among the persecuted and tortured. He held a high position among the generous and self -sacrificing.  He frankly described his great loyalty to his responsibilities as a Muslim who had pledged allegiance to the Prophet (PBUH) and walked under Islam's standard: I was present in every situation witnessed by the Prophet (PBUH). I was present at every pledge called by him. I was present in every detachment organized by him. The Prophet (PBUH) never took part in a raid, at the beginning of the period or the end, without my being on his right or left. Whenever the Muslims feared a danger facing them, I was there in the front, and whenever they feared it in the rear, I was there at the back. I never let the Prophet (PBUH) stay in a position between me and the foe until he (PBUH) met Allah.  

        It was a dazzling image of extraordinary faith and great loyalty. Ever since the first day he received Allah's light and put his hand into the Prophet's, Suhaib (May Allah be pleased with him and with all his Companions) was imbued with such outstanding faith.  

        From that day, his relationship towards people and the world, let alone himself, acquired a new dimension.  

        From that day, his character turned into a firm, humble and devoted one, subduing events and braving various types of horror.  

        He went on - as already mentioned - bravely and courageously shouldering all his responsibilities, never lagging behind, whenever there was danger or a situation to be encountered. His passionate love and ardent desire were not directed towards gains and spoils but rather towards sacrifice and ransom; not towards the greed of life but rather towards the passion of danger and self- sacrifice.  

        He began the days of his noble redemption and great loyalty with the day of his Hijrah. On that day he abandoned all his wealth, all his gold which he had gained by successful trade during the long years he lived in Makkah. He abandoned all his fortune, all that he owned in a split second, the glory of which was never stained by doubt or retreat.  

        When the Prophet (PBUH) intended to emigrate, Suhaib knew that and he was supposed to be the third one of the three the Prophet, Abu Bakr, and Suhaib.  

        However, the Quraish decided to prevent the Prophet's emigration. Suhaib fell into one of their traps and was thereby hindered for some time from emigrating, while the Prophet (PBUH) and his companion set out accompanied by Allah's blessing.  

        Suhaib disputed, talked, and argued until he got rid of his persecutors. He mounted his camel and sped across the desert. However, the Quraish sent its hunters to follow him. When they reached him, Suhaib had hardly seen them before facing them and shouting from a near distance, "O people of Quraish, you know that I am the best marksman. By Allah, you cannot reach me before I shoot each of my arrows with my bow, then I will strike you with my sword until it falls down. Come on, if you like to try. Or if you like, I will tell you where my money is, and so leave me alone."  

        They agreed to take his money saying, "You came to us as a poor wretch. Your money increased in our land and among us you claimed high rank and now you want to escape together with your money?"  

        He guided them to the place where he had hidden his fortune, then they left him alone and returned to Makkah. Strangely enough, they believed his words without doubt, without precaution. They did not ask him to prove his honesty, nor did they ask him to swear. This situation granted him a great honor, which he deserves as an honest and truthful man.  

        Alone but happy, Suhaib continued his journey until he reached the Prophet (PBUH) at Qubaa'.  When Suhaib came into view, the Prophet (PBUH) was sitting surrounded by his Companions. As soon as the Prophet (PBUH) saw him, he called to him cheerfully, "O Abu Yahia! A profitable sale! A profitable sale!"  

Thereupon, the glorious verse was revealed: "And of mankind is he who sell himself, seeking the pleasure of Allah And Allah is full of kindness to (His) slaves "(2:201). 

        Indeed, Suhaib had paid all his fortune - the fortune he spent all his youth to gather - in return for his faithful soul. He never felt it was an unjust bargain. Money, gold, the whole world, nothing of that sort was worthwhile as long as he kept his faith, the sovereignty of his conscience, and the determination of his fate. 

        The Prophet loved him very much. Besides being pious and God-fearing, he was a cheerful and jovial person. The Prophet (PBUH) saw him once eating dates when there was an inflammation in one of his eyes. The Prophet (PBUH) asked him cheerfully, "Do you eat dates when there is inflammation in one of your eyes?" He answered, "What's wrong with that? I eat them with the other eye!" He was a generous donor, spending all his stipend from the treasury (Bait Al-Maal) in the cause of Allah, helping the needy, aiding the sorrowful, feeding the needy, the orphans, and the captives with the best food. 

        His extreme generosity attracted the attention of `Umar, who said to him, "I can see you feeding people too much, to the extent that you are spending lavishly." Suhaib answered him, "I've heard the Prophet (PBUH) say, "The best of you is the one who feeds (others)."  

        The life of Suhaib was filled with an abandance of merits and great situations. To be chosen by `Umar lbn Al-khattab to lead the prayer was another merit to be added.  

        When the Commander of the Faithful was attacked while leading the Muslims in Fajr Prayer and felt his end was coming nearer and nearer, he began to advise his companions. His last words were, "Let Suhaib lead people in prayer".  

        On that day Umar chose six of the Companions and entrusted them with the choice of the new caliph. The Caliph of the Muslims was the one who led the prayers. In those days following the death of  the Commander of the Faithful until the new caliph was chosen, who was to lead the Muslims in prayer?  

        `Umar would slow down a thousand times before choosing someone especially in these moments,  while his pure soul was passing away to meet Allah. If he chose, then there was no one more eligible than the chosen. He chose Suhaib.  

        He chose him to lead the Muslims in prayer until the next caliph came to carry out his duties.  

        He chose him, despite the Roman accent obvious in his language. This choice was a divine blessing  upon the pious worshipper Suhaib Ibn Sinaan.  


.¤ª"˜¨¯¨¨Shuhaib Bin Sinan oSuhaib Ibn Sinaan¸,ø¨¨"ª¤.


Categories: